Rabu, Januari 25, 2012

Seribu rasa, seribu tanya, dan seribu bahasa muncul ketika aku menemukan selembar berita ini
Secarik kertas berisi berita duka dari masa lampau
Pikiranku mampu menggambarkan suasana pada saat itu, sekalipun aku tidak berada pada dimensi waktu yang sama
Perasaanku terbang seolah menyatu dengan kelamnya malam
Malam perpisahan...
Selamat Jalan Pak Teguh

SORE KELABU
Selasa lalu aku dan guruku duduk berhadapan
Guruku bicara tentang pengkhianatan
Guruku bicara tentang kekeringan cinta
Guruku bicara tentang pahitnya ditinggalkan
Guruku bicara tentang kehilangan
Dua..., empat..., enam..., genap menit kedelapan aku menyimpulkan
Dia bukan hanya bicara
Dia kesakitan, guruku kehilangan akal dan logika
Aku menarik nafas dalam
Aku persiapkan hati dan pikiran 
Satu..., tiga..., lima..., keganjilan mulai terasa
Meskipun bibirku terkatup rapat
Hatiku berkata
Guruku menahan kesedihan yang luar biasa
Namun dia membiarkan rasa itu binasa
Sore itu aku terdiam
Membisu tanpa sepatah kata bahkan tanpa suara
Dadaku serasa hancur porak poranda
Merasakan kepedihannya yang teramat dalam

PUPUS
Berita yang kulampirkan bersamaan dengan tulisanku membuatku terpaku Gelisah mengaku hilangnya satu peradaban, peradaban yang beliau lahirkan Peradaban dimana karya seni diciptakan
Peradaban dari setiap individu yang dikembangkan
Peradaban itu kusebut masa keemasan
Peradaban dimana mereka bersama dalam satu masa
Bersama dalam satu rencana
Semangat dalam satu langkah yang sama
Melintasi waktu, mewujudkan cita-cita
Dimanakah mereka berlabuh sekarang?

MASIH ADA
Kilau gemilang masa berkarya
Redup menghilang tanpa cahaya
Mungkinkah gelap itu kembali menjadi?
Untuk mengisi gulita malam
Aku berani tegap berdiri
Menyuarakan semua kemungkinan ini
Aku rela menepi untuk berhenti
Menyatakan apa yang kulihat pasti
Ya, masa itu masih ada
Tak luluh dan lantas mati
Masa itu hanya terkunci
Masa itu hanya sembunyi
Dibalik jeruji-jeruji waktu
Ditangan pakar yang pasti
Berusaha pulih untuk kembali


GENERASI BARU
Ada hitam, ada putih
Dan pasti ada abu-abu
Ada merah, ada putih
Dan pasti ada merah jambu
Hilang satu, murni jadi kelabu
Namun...
Semua itu akan terpulihkan oleh waktu
Selama masih ada sekutu, bulat kami menyatu
Bersatu dalam bimbingan sang guru

Butuh waktu dan keyakinan untuk menjabarkan semua yang kurasa. Bukan hal yang mudah menuangkan perasaanku dalam bentuk tulisan, selain karena aku terbiasa menguraikannya secara lisan, aku juga bukan wanita yang pandai merangkai kata menggunakan pena. Namun kali ini ada dorongan yang luar biasa untuk mengungkapkan apa yang kurasa dalam bentuk lain yang bukan verbal, yaitu : Tulisan



Regards,
Gesata. S.


*ini merupakan syair sahabat gue, Gesata. Kenapa gue post ini? Karena ketika gue mendengarkan syair ini gue sangat tersentuh dengan tulisannya. Sangat disayangkan apabila gue tidak berbagi tulisan bersama kalian. Semoga kalian suka dengan tulisannya. 

0 komentar: